Jumat, 27 September 2013

kamu

                Kau memang menarik juga indah. Kau memikat hati setiap orang yang mengenalmu, dan aku pun begitu. Aku terpikat olehmu, entah karena apa, hal yang belum bisa diterjemahkan. Aku mengenalmu lebih dari mereka. Kau memercayaiku layaknya aku hidup sepertimu, bayanganmu, begitupun sebaliknya, aku memercayaimu. Ya, kita terkait oleh sebuah ikatan persahabatan. Semua tentangmu dan juga hal yang telah kau lalui sepertinya aku ketahui. Mulai dari masa lalumu, sekarang, dan sepertinya sampai nanti.                 Satu hal yang belum aku mengerti, sampai sekarang. Kadang, aku merasa seperti terduakan. Iri jika kau mengenal orang baru dan kau terlihat lebih bahagia ketika bersamanya. Lelah sampai hati aku menahan dan mencoba mengerti keadaan hidup ini. Kau bebas berteman dengan siapapun, kau berhak mempunyai banyak teman, bahkan mungkin yang lebih baik dariku atau mungkin bisa menggantikanku. Jujur saja, aku memang egois.  Baru kali ini aku menemukan teman yang sepertimu. Yang bisa dikatakan benar-benar sahabat, mungkin. Kau mengerti tentangku, begitulah mungkin aku nyaman bersamamu. Belum lagi banyak hal kesamaan yang terjadi pada diri ini juga terjadi padamu. Hal apa yang baru saja terjadi padaku, lalu terjadi padamu. Begitu juga yang terjadi padamu. Seperti senyawa tetapi berbeda raga. Kini aku mengerti, sakit memang jika terus saja merasakan terduakan. Tapi hikmahnya, aku semakin kuat. Benar saja quotes yang sering aku baca “Semakin kuat suatu hubungan, maka semakin kuat pula halangan yang mencoba merapuhkannya.” Jadi itulah maknanya, semakin kuat aku menahan rintangan yang ada, melewatinya dengan penuh kesabaran, dan berharap adanya kebaikan. Dan ternyata, aku semakin kuat. Itu kebaikannyaJ                 Tak perlu kini aku mengeluh. Iri atau semacamnya. Aku yakin, selama aku masih berada disisinya. Dianggap atau tidak, dia tetap sahabatku dan aku tak akan merasakan sakit. Toh aku senang berada bersamanya. Suatu saat nanti, mungkin, kita akan mengerti lebih dalam satu sama lain. Menghargai kebersamaan yang telah terlewati dan juga waktu yang mengijinkan terus mengenal. Harapanku, doaku kini agar hati ini lebih leluasa melewati rintangan yang ada dan berusaha untuk turut bahagia serta sedih saat suka dukamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar